"Terima Kasih telah berkunjung ke blog ini. Jangan lupa Share dan Comment ya"
loading...

Kondisi Lingkungan dan Hutan Rusak Secara Geografis

'Opiniku'

Kerusakan lingkungan dan hutan saat ini bukan lagi isu abstrak, melainkan fenomena geografis yang nyata dan terukur. Di berbagai wilayah dunia—terutama negara tropis—perubahan tutupan lahan terjadi secara masif dan cepat. Hutan yang dahulu berfungsi sebagai penyangga kehidupan kini berubah menjadi kawasan produksi, permukiman, atau bahkan lahan kritis yang ditinggalkan begitu saja.

Di Indonesia, kerusakan hutan terlihat jelas secara spasial. Wilayah seperti Kalimantan dan Sumatra mengalami deforestasi besar-besaran akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur. Secara geografis, dampaknya tidak hanya lokal. Hilangnya hutan di hulu sungai menyebabkan banjir di dataran rendah, longsor di wilayah perbukitan, serta kekeringan berkepanjangan di daerah yang sebelumnya subur.

Kerusakan ini juga mengubah pola iklim mikro. Kawasan yang dahulu sejuk dan lembap kini menjadi panas dan kering. Secara regional, deforestasi berkontribusi pada peningkatan suhu, perubahan pola hujan, serta memburuknya kualitas udara terutama saat kebakaran hutan dan lahan terjadi. Asap lintas wilayah membuktikan bahwa kerusakan lingkungan tidak mengenal batas administratif.

Dari sudut pandang geografis manusia, kerusakan hutan memperlebar ketimpangan ruang. Masyarakat adat dan pedesaan yang bergantung pada hutan kehilangan sumber penghidupan, sementara manfaat ekonomi sering terkonsentrasi di wilayah atau kelompok tertentu. Akibatnya, muncul konflik lahan, urbanisasi paksa, dan tekanan sosial di wilayah perkotaan.

Menurut saya, kerusakan lingkungan dan hutan adalah cermin kegagalan kita membaca ruang secara bijak. Pembangunan yang mengabaikan daya dukung wilayah hanya akan menghasilkan keuntungan jangka pendek dan kerugian ekologis jangka panjang. Jika pendekatan geografis yang mempertimbangkan hubungan antara manusia, ruang, dan lingkungan tidak dijadikan dasar kebijakan, maka kerusakan ini akan terus berpindah tempat, meninggalkan jejak krisis di mana-mana.

Kerusakan hutan adalah masalah spasial. Selama kebijakan tidak membaca peta sebagai peringatan dini, kerusakan akan terus berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.


Disusun oleh: Suwandi Purba, S.Pd.,Gr

Sumber Berita: Berbagai Sumber (Chat Gpt-5.2) 

Sumber Gambar: Gemini AI

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kondisi Lingkungan dan Hutan Rusak Secara Geografis"

Posting Komentar